Sepenggal Kisah Guru Desa

1
737
Terkadang menuju ke sekolah menggunakan mobil pengangkut kayu balak
Terkadang menuju ke sekolah menggunakan mobil pengangkut kayu balak

Dear semuanya,,,,

Tepat 1 April enam tahun yang lalu, bahagianya hati saya mengetahui hasil kelulusan CPNS dan memperoleh SK penempatan di SMPN 3 Langgam. Bahagia bercampur haru karena mengetahui letak sekolah itu sangat jauh dari ibukota kabupaten. Tantangan tentunya.

Hari pertama mengunjungi sekolah tersebut, bertepatan dengan hujan deras. Jalanan yang dilalui seperti lumpur. Berkali-kali kendaraan yang kami tumpangi hampir keluar dari jalan. Doa terus diucapkan, berharap ada keajaiban hujan akan berenti. Dan benar saja, beberapa saat kemudian hujan berhenti. Alangkah terkejutnya saya, jalan yang tadinya berlumpur sekarang digantikan dengan jalan berdebu. Maklumlah jalan yang kami lalui ini merupakan jalan perusahaan berbatu dan berpasir. Akhirnya setelah menempuh perjalanan 2 setengah jam barulah sampai di lokasi yang dituju. Selama 3 tahun saya menetap disana, hanya seminggu sekali pulang ke Pekanbaru. Jarak yang ditempuh hampir 110 km, ditambah dengan menyeberangi sungai dengan ponton.

Ceritanya berlanjut, setelah 3 tahun disana. Saya memutuskan untuk bolak balik dari rumah Pekanbaru-sekolah-Pekanbaru. Inilah pengalaman yang seru. Bangun pagi pukul 3.30 WIB. Bersiap-siap, berangkat dari rumah meninggalkan suami dan anak. Pukul 5 subuh, setelah Solat Subuh langsung berangkat ke sekolah. Jangan dikira langsung sampai ya kawan. Pertama kami naik mobil sewa, namanya superben di Pekanbaru. Sekitar  1 jam sampai di ibukota kabupaten, Pangkalan Kerinci. Disinilah serunya, angkutan umum ke dalam tidak ada, yang ada hanya mobil perusahaan yang mau ke lokasi pabrik. Jadi kami memberhentikan mobil pengangkut kayu balak, mobil tangki minyak, mobil sawit, dan mobil truk-truk lainnya.

Pokoknya semua yang lewat, kami tanya apakah melalui sekolah kami. Bayangkan saja, ibu-ibu guru yang berpenampilan anggun, harus mengangkat rok tinggi-tinggi untuk bisa naik ke mobil tronton. Ups, tentu saja kami mengenakan celana legging. Terkadang untuk menghindari jenuh di mobil besar dan mahal ini, kami berfoto-foto ria. Sambil tertawa dan bercanda. Tapi, saya mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Jika kita ikhlas melaksanakan pekerjaan kita, semuanya akan terasa ringan dan Alhamdulillah selama menjalani rutinitas tersebut saya bisa beraktivitas sebagai pendidik di sekolah dan sebagai ibu yang sukses mengurus rumah tangga juga.

Terlebih lagi kalau banjir, untuk mencapai sekolah kami harus naik pompong, alat transportasi air yang menggunakan mesin seadanya. Melalui genangan banjir hampir satu jam lamanya. Belum lagi terkadang ada ular yang melintas di depan pompong tersebut. Ngeri-ngeri sedap.

Alhamdulillah sekarang saya sudah pindah ke sekolah yang baru. Baru 2 bulan saya disini. Letaknya hanya 40 km dari tempat tinggal saya. Bukannya tidak mau mengabdi di desa lagi, tetapi ingin bertukar suasana kerja dan berbuat lebih banyak lagi demi kemajuan anak didik. Di sekolah yang baru ini, suasana sangat berbeda. Fasilitas sudah ada. Prestasi pun sudah sampai ke tingkat nasional. Mulai dari Adiwiyata Nasional sampai KIR Nasional Bidang Sains IPA. Jadi, harapan saya ke depan bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam bidang matematika, hingga ke tingkat nasional Insyaallah. Mengukir prestasi dan membuat bangga keluarga besar disini. Disini jugalah saya bertemu dengan rekan sejawat yang mengenalkan DOL ini dan mensupport saya untuk mengikutinya. Terimakasih Buk Yus. Dan tak lupa Buk Rusna, ibu kepala sekolah yang saya banggakan.

Itulah segelintir pengalaman pribadi saya menjadi guru matematika di SMPN 3 Langgam dan berlanjut di SMP N 2 Bandar Seikijang. Kita berbagi cerita di lain waktu lagi ya….

*Tulisan ini dimuat di Kompasiana.com tanggal 10 Mei 2015 semasa mengikuti Diklat Online PPPPTK Matematika

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here