Yuk Kita Nabung di Bank Sampah!

0
639

PEKANBARU_Masalah sampah menjadi masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat dewasa ini. Secara tidak kita sadari, setiap hari kita memproduksi sampah, baik itu organik maupun anorganik. Tidak di rumah tangga saja, di sekolah juga sampah menjadi momok yang menakutkan. Aroma yang tidak sedap dan menumpuknya sampah anorganik dapat mengurangi keindahan lingkungan sekolah.

Sebagai sekolah menuju Adiwiyata Nasional, SMPN 12 Pekanbaru bergesa dalam hal pengelolaan dan pengolahan lingkungan. Salah satu kegiatan penunjang agar tercapainya tujuan tersebut adalah dengan bekerjasama dengan Bank Sampah Bukit Hijau Berlian, yang dipimpin oleh Ibu Syarifah Anum.

Syafrida Ali, S.Pd selaku kepala sekolah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Guru dan siswa dilibatkan secara langsung untuk menyetor sampah ke Bank Sampah. Sosialisasi Bank Sampah bersama Ibu Syarifah Anum dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Januari 2019. Sedangkan penandatanganan  MOU dilaksanakan selang tiga hari sejak sosialisasi, yakni Sabtu (19/01/2019).

Ia menjelaskan bahwa bank sampah merupakan suatu cara pengelolaan sampah dengan menggunakan konsep perbankan, tetapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang, warga yang menabung disebut nasabah dan akan diberi buku tabungan bank sampah.

“Tujuan bank sampah sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat agar dapat bersahabat dengan sampah dan mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung dari bank sampah. Bank sampah harus dilakukan dengan gerakan 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi namun pembangunan lingkungan yang bersih hijau dan sehat.” Lanjutnya.

Sedangkan untuk sistim kerja bank sampah, sama seperti bank bank lainnya sebagai tempat penyimpanan uang. Para siswa atau guru bisa langsung menyetor sampah yang sudah dipilah di bank sampah unit yang ada di sekolah. Selanjutnya mobil dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) akan menimbang dan menjemput sampah tersebut. Jadi, tidak ada lagi sampah anorganik yang tertumpuk di sekolah. ,  .

Beliau menambahkan “Jadi sebelum dibawa ke bank sampah, nasabah harus memilah terlebih dahulu sampahnya karena setiap jenis sampah memiliki nilai/harga yang berbeda. Sedangkan mekanisme menabung di bank sampah adalah dimulai dari nasabah membawa sampah yang sudah dipilah beserta buku tabungan dan menyerahkan sampah kepada petugas bank sampah. Petugas menimbang sampah sesuai jenisnya mencatat jenisnya, berat dan jumlah uang yang diterima nasabah. Berikutnya petugas mencatat hasil transaksi ke dalam buku besar milik bank sampah, ” jelasnya.

“Banyak sampah yang selama ini dibuang begitu saja rupanya bernilai ekonomis dan bisa ditabung juga. Saya ingin punya buku tabungan di Bank Sampah juga, biar bisa menabung sambil menjaga kebersihan lingkungan” ujar Meixsen, salah seorang siswa SMPN 12 mengiyakan.

Sementara itu, untuk sampah organik. Ibu Een, panggilan Ibu Syarifah Anum mendemonstrasikan kepada guru-guru dan siswa tentang cara pembuatan kompos dan pokasi. Kompos ini nantinya sangat bermanfaat baik bagi lingkungan sekolah maupun bagi warga sekolah.

Mudah-mudahan kegiatan ini membawa perubahan  yang baik dan signifikan, terutama menyukseskan Program Nasional Bank Sampah. Khususnya sebagai indikator bagi SMPN 12 untuk mantap melangkah menuju Adiwiyata Nasional. Tentunya sebutan Adiwiyata tidak berarti jika tidak relevan dengan pola hidup  kita sehari-hari dalam menjaga lingkungan.Kita BISA! (syl)

NB. Edisi post berita menggunakan bahasa formal, soalnya lagi belajar mau jadi wartawan… Biar diajak Ayah Syauqi kalau ada liputan ke luar kota… Hehehehe…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here